Shoutul Jihad

SALAH KAPRAH “REFLEKSI JIHAD ACEH 2010″

Posted in Catatan by Abu Qotadah on 09/06/2010

Refleksi Jihad Aceh 2010, tulisan berasal dari sebuah blog entah milik siapa (tidak ada identitas jelas dari pemilik yang dicantumkan dalam blog tersebut) yang beralamat di http://elhakimi.wordpress.com itu,  kemudian dalam waktu singkat disadur (baca: di copy paste) oleh banyak website dan blogger lain, diposting ke forum-forum Islam sampai facebook hingga kemudian menjadi polemik dan bahan perdebatan, dan terakhir dimuat dalam majalah Ansharut Tauhid di edisi ke-11 sebagai suplemen.

Penulis Refleksi Jihad Aceh, sebagaimana diurai dalam tulisannya, hendak memberikan analisa kritis atas amaliah jihad Aceh dengan catatan-catatan evaluasi, agar menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Sama sekali bukan karena faktor benci atau dengki tuturnya. Tapi semangat saling menasehati dengan cinta. Sebuah tujuan yang sangat mulia menurut kami.

Tapi bukankah suatu nasihat tidak cukup hanya dilandasi maksud baik atau niat yang tulus, namun akan lebih sempurna jika disajikan dengan bahasa yang bijak, uraian yang benar dan pemahaman yang baik terhadap permasalahan atau terhadap obyek yang akan di evaluasi dan dinasehati.

Ada beberapa catatan penting dari kami, berkaitan dengan beberapa poin dalam tulisan Refleksi Jihad Aceh, kami tidak mengatakan semua tulisan tersebut salah, namun beberapa hal yang menjadi catatan kami sangat penting untuk disampaikan, beberapa diantaranya sangat fatal kesalahannya menurut kami, beberapa hal yang lain berpotensi membangun persepsi yang keliru bagi yang membaca jika tidak didudukkan secara proporsional dalam timbangan syariat.

Pilihan Bahasa

Tak bisa dipungkiri, pemilihan bahasa adalah hal terpenting dalam komunikasi apalagi dalam urusan saling menasehati, pilihan bahasa yang kurang bijak justru kerap menimbulkan rasa skeptis bahkan sakit hati pada obyek yang mungkin dalam hal ini adalah para mujahidin yang terlibat langsung dengan Jihad Aceh, para keluarganya dan kaum muslimin yang pro terhadap mereka.

Kami tidak tahu, apakah penulis Refleksi Jihad Aceh khilaf dan tidak hati-hati, atau karena adanya unsur emosional hingga kemudian tidak berlaku adil dalam memilih bahasa yang baik pada tulisannya, hingga keluar istilah dan sebutan yang menyakitkan bagi para mujahid, seperti tuduhan bahwa para mujahidin Aceh ini isti’jal, ingin menegakkan Islam laksana sulap. Atau minimal ingin mencapai hasil laksana preman; todongkan senjata, semua urusan akan selesai.

Menyebut para mujahidin Aceh itu sibuk dengan dunianya sendiri seperti hidup di planet lain, bahkan menyamakan mereka dengan pengidap autisme.

Ketidak adilan lainnya ketika penulis mengungkapkan polisi mengatakan para mujahidin aceh adalah orang-orang yang jahat, tidak ada musuh yang jelas kok ngajak perang, mereka hanya mau membuat onar, jika masyarakat aceh ikut hanya akan membawa kesengsaraan saja. Penulis mengatakan bahwa provokasi semacam ini disebut sebagai keberhasilan dakwah polisi terhadap masyarakat aceh.

Semestinya itu bukan merupakan dakwah, lebih tepat jika menggunakan istilah provokasi jahat terhadap mujahidin.

Sebagaimana sindiran Allah swt,

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS 9:32)

Apa yang diseru  polisi merupakan upaya untuk memadamkan agama Allah, sebagaimana mereka menyebut mujahidin sebagai teroris, seperti halnya sebutan fundamentalis, wahabiyyin (contoh lain istilah-istilah yang disematkan untuk mematikan dan mendiskreditkan upaya kembali kepada dien). Penyebutan teroris bagi mujahidin yang diprakarsai dan diseru oleh George Bush. Apakah penulis juga akan menyebutnya sebagai dakwah?

Tuduhan keji tanpa dasar

Penulis Refleksi Jihad Aceh, disadari atau tidak telah melemparkan tuduhan yang tidak didasari pengujian terhadap realita, paling tidak dengan melakukan tabayyun terhadap para pelaku yang saat ini sebagian berada dalam tahanan thoghut dan sebagian lagi menyandang status sebagai DPO.

Penulis Refleksi Jihad Aceh menuduh bahwa para mujahidin Aceh menihilkan peran dakwah, mereka (mujahidin) menihilkan apa pun kecuali Jihad. Pokoknya jihad. Sebuah tuduhan yang sangat jauh dari realita, sepengetahuan kami justru sebaliknya, tak sedikit diantara mereka yang terlibat dengan Jihad Aceh (terlepas dari sejauh mana kebenaran tuduhan thoghut atas mereka) merupakan para da’i yang getol menyerukan dakwah tauhid di tengah-tengah masyarakat, sebut saja ustadz Ubaid (ditahan) yang aktif dalam dakwah dan menerjemahkan buku-buku Islam, kemudian ustadz Aman Abdurrahman (ditahan) dan beberapa muridnya yang giat melakukan dakwah untuk memahamkan ummat  terhadap tauhid, baik melalui penerjemahan serta  penyebaran buku dan artikel, berdakwah melalui media website (millahibrahim.wordpress.com), hingga melakukan safari dakwah secara rutin setiap bulannya ke seluruh Indonesia, beberapa orang lain yang terlibat hingga ditahan maupun masih menjadi DPO dalam kasus Aceh juga dikenal sebagai da’i di lingkungannya.

Beberapa Catatan Penting

Berikutnya kami mencoba menguraikan beberapa catatan terhadap tulisan Refleksi Jihad Aceh dengan menanggapi beberapa poin dalam tulisan tersebut. Versi tulisan yang kami gunakan dalam catatan ini adalah yang dimuat di Majalah Media Islam Ansharut Tauhid edisi ke-11 terdiri atas 15 halaman.

Kalimat penulis, Jihad membutuhkan “pemicu” sehingga bisa menarik umat Islam dalam jumlah masal untuk bergabung. Jika pemantiknya tidak cukup kuat, masyarakat tak tergerak untuk mendukung jihad. Faktanya, pelaku sama sekali tak memikirkan faktor pemantik ini. Mereka hanya menjadikan fardhu-nya jihad dan kemuliaan mati syahid sebagai pemantik. (Hal. 4)

Sampai pada kalimat …

… yakni hadirnya penjajah asing yang kafir dan sangat kejam. Tiga kata (yang dibold) tersebut menjadi pemicu yang sangat kuat … (Hal. 5)

Pemantik yang digunakan oleh pelaku hanya kosa kata jihad, fardhu ‘ain, Al-Qaeda dan mati syahid. (Hal. 5)

Para mujahid Aceh tampaknya bermazhab bahwa jihad adalah tujuan, bukan cara. Bahkan lebih ekstrim lagi, menjadikan mati syahid sebagai tujuan. (Hal. 5)

Kami menilai tuduhan tersebut tidak sesuai dengan waqi’ hari ini dan tidak sesuai dengan syar’i

Kalau penulis mengatakan dinegri ini tidak ada penjajah asing, kafir dan kejam jelas ini tidak sesuai realita diantara faktanya adalah pembentukan detasemen 88 yang dibentuk oleh pemerintah dengan bantuan dana dari Amerika dan Australia sekaligus dilatih khusus oleh pasukan khusus amerika yaitu FBI dan SWAT  yang bertujuan untuk memerangi teroris (mujahidin).  Itu hanya salah satu contoh dari berbagai cengkeraman penjajah kafir di negeri yang para pemimpinnya menolak menerapkan syariat Islam ini.

Kemudian dari tinjauan syar’i kalau orang-orang yang berjihad hari ini yang menjadi pemantik adalah kata-kata jihad fardhu ‘ain dan mati syahid ansich, maka menurut kami itu sudah cukup dan dibenarkan secara syara’ berdasarkan nash-nash syar’i berikut,

Firman Allah Ta’ala yang artinya:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah 111)

Firman yang lainya adalah,

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS Ash Shaff 10-11)

Kemudian dalam hadist Rasulullah belaiu banyak mengobarkan semangat jihad para sahabat dengan motivasi surga diantaranya ketika perang badar rosulullah mengatakan kepada para sahabat, “Berdirillah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, kemudian salah seorang sahabat yang bernama Umair bin Hammam berdiri dan berkata, ”Wahai Rasulullah, surga yang seluas langit dan bumi?” Benar!” jawab beliau SAW. ”Ck..ck..”, komentar Umair. Rasulullah bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk mengucapkan kalimat Ck..ck ?“ Ia menjawab, ”Tidak wahai Rasulullah, rasanya aku tidak punya harapan untuk menjadi penghuninya.” Tetapi kamu termasuk penghuninya!”, jelas beliau, maka Umair mengeluarkan korma dari kantongnya, ia makan beberapa biji, lalu berkata, ”Jika aku masih hidup untuk menikmati korma-korma ini, sungguh itu adalah kehidupan yang panjang.” Kemudian ia membuang korma yang ada ditanganya, lalu ia maju bertempur sampai terbunuh .(HR Muslim)

Dalam hadist tersebut sahabat Umair langsung menerjang musuh begitu Rasulullah menjajikan surga kepada Umair bin Hammam, apakah kita akan mengatakan sahabat Umair adalah orang yang isti’jal yang hanya berfikir mati syahid sebagaimana dituduhkan penulis kepada orang –orang yang berjihad dengan kata-kata isti’jal (tergesa-tergesa), Rasulullah tidak mengatakan kepada para sahabat pokoknya kalian perang saja, didepan sudah ada orang kafir yang kejam, tapi rasulullah tetap memberikan motivasi syahid dan surga kepada para sahabat, dan masih banyak hadits lain yang serupa yang tidak mungkin kami uraikan di sini. Intinya bahwa motivasi mati syahid, dan jihad sudah menjadi fardhu ‘ain sudah lebih dari cukup untuk mengamalkan Jihad fi Sabilillah.

Kalimat penulis, Padahal jika mujahid hanya merencanakan mati (syahid), ia sedang merancang kekalahan. (Hal. 5)

Bagaimana penulis bisa mengklaim bahwa jika merencanakan mati syahid  ia sedang merancang kekalahan , telah kami kemukakan sebelumnya perihal sahabat Umair ra.

Kesyahidan merupakan pilihan yang Allah tentukan bagi hamba-Nya. Bermakna, siapa yang Allah pilih untuk bisa mencapai derajat ini berarti telah meraih kesuksesan dan kemenangan. Kesyahidan adalah puncak daripada cita-cita karena kesyahidan  merupakan pilihan dari Allah,  sampai-sampai Rasulullahpun mengangankan kesyahidan hingga tiga kali di dalam sabdanya:

(وَلَوَدِدْتُ أَنْ أُقْتَلَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ)

Sungguh, aku benar-benar berandai-andai jika untuk terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, ke-mudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi.”

Allah Ta‘ala berfirman untuk menegaskan makna kemenangan ini:

{وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ}

Dan janganlah kalian sangka bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi rabbnya mendapatkan rezeki.”

Dan berfirman:

{وَلاَ تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لاَ تَشْعُرُوْنَ}

“Dan janganlah kalian katakan bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup tetapi kalian tidak menyadari.”

Dalil yang menunjukkan bahwa kesyahidan adalah kemenangan adalah hadis yang terdapat dalam Shohih Bukhori Muslim dari Anas bin Malik ra ia berkata: Ketika Harom bin Milhan ditikam pada peristiwa Bi’ru Ma‘unah –Harom adalah paman daripada Anas—, ia melumurkan darahnya di wajah dan kepalanya sembari mengucapkan: “Fuztu wa robbil Ka‘bah…!” (Demi robb pemilik Ka‘bah, aku telah menang).

Coba, bagaimana mungkin orang yang melihat kematian berada di depan matanya bersumpah bahwa ia telah menang kalau bukan karena ia telah mencium bau surga?

Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa seorang mujahid sudah cukup disebut menang manakala ia mati sya-hid sangatlah banyak, sudah dije-laskan secara terperinci oleh para ulama dalam bab khusus tentang keutamaan mati syahid di jalan Allah. Silahkan baca juga kitab “masyariqul asywaq ‘’ karya  besar syekh Ibnu al Nahhas, di sana akan kita temukan sebuah bab tentang keutamaan seorang yang memilih terbunuh di jalan Allah. Bahkan lebih dari itu ada judul tentang “fii fadhl inghimaasy  al rojul alsyujaa’ aw al jamaah alqoliilah fi l ‘aduw al kathiir rogh bata al syahaadah” yakni Keutamaan Seseorang Atau Kelompok Kecil Yang Berani  Menceburkan Diri Pada Musuh Yang Kuat dan Banyak Semata-mata Untuk Meraih Syahadah,  pada halaman 522 yang sudah di tahqiiq oleh Idris Muhammad Ali dan Muhammad Kholid Islambuly  dengan percetakan “daaru l basyiir alislamiah”.

Selanjutnya penulis menjelaskan,

Maka tolok ukur keberhasilan harus kita sepakati sisi keberlangsungan jihadnya, dukungan umat Islam atasnya dan kemampuan melemahkan musuh hingga mengalahkannya.(Hal. 7)

Apa yang dimaksud penulis dengan keberlangsungan jihad ?

Para mujahidin Aceh  adalah bagian dari jihad “global”artinya apa yang mereka lakukan justru nampak sebagai upaya untuk menjaga keberlangsungan jihad yang digagas para pendahulunya dan diamalkan mujahidin lain di seluruh dunia, jika penulis bermaksud mengatakan dengan tolak ukur ini kemudian para pelaku Aceh telah ditangkap dan sebagiannya dikejar-kejar sebagai DPO maka keberlangsungan jihad ini terhenti? Maka ini sungguh kesimpulan yang terlalu dini dan sangat sembrono.

Apa yang dimaksud penulis dengan dukungan umat Islam?

Apa yang dimaksud dengan “Umat Islam”? Mari kita sepakati  definisi Umat Islam.  Jangan-jangan  paradigma penulis menganggap semua orang yang ada di jalan-jalan, di pasar-pasar,  di mall-mall, adalah umat yang semuanya harus mendukung terhadap jihad fi sabilillah? Sesungguhnya yang disebut sebagai umat Islam tidaklah diukur  dengan bilangan jasad manusia. Sedang Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah umat ..” (QS 16:120).

Sedangkan kalimat penulis, Kemampuan melemahkan musuh hingga mengalahkannya.

Maka kami katakan kalimat ini pun tidak tepat untuk menjadi tolak ukur kegagalan Jihad Aceh, sedikit atau banyak jihad Aceh telah memberikan pukulan kepada musuh, uraian tentang hal ini tidak mungkin kami sampaikan satu per satu di sini, di samping masih memerlukan penelitian dan pengujian yang lebih mendalam. Adapun mengenai kekalahan musuh, jika kita berfikir jihad secara “global”, maka jihad Aceh merupakan satu bagian dari jihad yang lebih besar, yang pada hari ini telah menampakkan kemenangan, sebagaimana pengakuan banyak pakar intelejen kuffar yang menyatakan  bahwa sejak di canangkan “perang terror global” yang dimulai 2001 setelah peristiwa wtc (mubarokah), pemenangnya (menurut bahasa mereka) adalah teroris’. Fakta yang paling jelas Amerika di ambang kehancuran dan kebangkrutan yang tidak di alami sejak beratus-ratus tahun.

Kemudian masalah selanjutnya adalah penulis mengatakan dalam halaman 7

Jihad:tujuan atau sarana

Disini kami kembali mempertanyakan kepada penulis dari mana dasarnya pembagian ini. Menurut kami hari ini jihad adalah sebuah faridoh yang difardhukan kadpada kita dengan tujuan untuk meniggikan kaliamat Allah dimuka bumi dengan sarana yang bisa kita gunakan seperti dalam firman Allah, Yang artinya “dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu milki dan pasukan berkuda yang dapat menggetarkan musuh Allah…(Qs Al anfal 60)disini kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan iman dan kekuatan fisik.ini berdasar kepada tahapan disyariatkan jihad yang tahapanya sudah sempurna yaitu kita diwajibkan memerangi seluruh orang musyrik meskipun mereka tidak memerangi kaum muslimin,sampai mereka masuk islam atau membayar jizyah bagi beberapa golongan yang diperselisihkan para ulama.dalilnya adalah  dalam surat at taubah yang artinya”apabila sudah habis bulan –bulan harom itu,maka bunuhlah orang-orang musyrikin dimana saja kamu jumpai mereka,dan tangkaplah mereka,kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian. At taubah 5.dan masih banyak nash yang lain karena keterbatasan tempat tidak bisa kami sebutkan semuanya.adapun pembagian jihad menurut kami hari ini adalah jihad tholab( ofensif )danjihad difa’i( defensif),dan kami menyakini hari ini yang ada adalah  jihad difa’i( defensif).bukan membagi jihad saran dan tujuan.maka apapun kondisi kita sekarang kita harus berjihad melawan mereka sebagai bentuk mempertahankan diri tentu dengan taktik dan strategi yang jitu untuk melawan mereka,tidak seperti yang dituduhka penulis bahwa orang-orang yang berjihad hari ini prinsipnya POKOKNYA JIHAD,ini tuduhan yang tidak benar.

Kemudian dalam halaman 13 penulis menyebutkan

Maka kita harus mengartikan jihad dengan makna perang (war) bukan pertempuran (battle). Dalam bahasa Arab juga dibedakan. Pertempuran atau battle disebut dengan qital, harb atau ma’rakah. Sedangkan perang digunakan istilah jihad.

Kami mempertanyakan dari mana penulis Refleksi Jihad Aceh bisa membedakan antara kata-kata jihad dengan qital?

Penulis mengatakan bahwa kata jihad adalah perang yang bersifat lama sedang qital pertempuran sesaat, sedang yang kami fahami makna jihad adalah qital sebagaimana yang ada dalam al  qur’an, dalam alqur’an banyak disebut kata-kata jihad dan qital, dan yang dimaksud jihad disitu adalah qital, seperti firman ALLAH:

Dalam surat at Taubah dalam ayat 41, yang artinya:

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat,dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan ALLAH.yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Juga dalam at taubah ayat 86-88, yang artinya:

Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang-orang munafik itu) berimanlah kamu kepada ALLAH dan berjiahadlah beserta rosulnya, niscaya orang-orang yang sanggup diantara mereka meminta ijin kepadamu(untuk tidak berjihad) DAN MEREKA berkata biarkanlah kami bersama orang-orang yang duduk. (87)mereka rela berada bersama orang orang yang tidak pergi berperang.dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui, tetapi rosul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dua ayat diatas ditafsirkan bahwa makna jihad dalam ayat tersebut adalah qital dalam firman ALLAH yang lain yaitu pada surat ash shoff 4, yang artinya:

Sesungguhnya ALLAH menyukai orang –orang yang berperang dijalanNya dalam barisan yang teratur seaka akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh

disini ALLAH menghasung kata qital untuk menafsirkan 2 ayat sebelumnya yang menggunakan kata jihad.

Kemudian dalam hadits rosululloh juga menafsirkan makna jihad dengan qital yang artinya;

“dari amru bin ‘abasa ra.beliau berkata”.ada orang bertanya kepada rosulullah “wahai rosululloh apakah islam itu ?beliau menjawab”hatimu merasa aman,dan juga orang-orang muslim merasa aman dari gangguan lidah dan tanganmu.orang tersebut bertanya lalu islam bagaimanakah yang paling utama ?beliau menjawab iman “orang tersebut bertanya lagi”apakah iman itu ?beliau menjawab”kamu beriman kepada ALLAH,malaikat-malaikatNya,kitab-kitabNya,rosul-rosulNya dan kebangkitan setelah mati.”orang tersebut bertanya lagi”lalu iman bagaimanakah yang paling utama ?beliau menjawab.”hijroh.”orang tersebut bertanya lagi”apakah hijroh itu ?beliau menjawab “engkau meninggalkan amalan jelek.”orang tersebut bertanya lagi”lalu hijroh bagaimanaka yang paling utama itu ?”beliau menjawab jihad.orang tersebut bertanya lagi apakah jihad itu ?”beliau menjawab “engkau memerangi orang-orang kafir jika kamu bertemu mereka…. (HR Ahmad dengan sanad shohih)

Dalam hadist diatas rosululloh menjawab orang yang bertanya tentang jihad dijawab dengan kata qital.

Kemudian jika penulis mengatakan bahwa jihad itu berlangsung lama dan qital hanya sementara inipun bertentangan dengan dalil syar’I diantaranya:

firman ALLAH yang artinya:

dan perangilah mereka itu sampai tidak ada fitnah,dan agama hanya bagi ALLAH semata.jika mereka berhenti,maka tidak ada lagi permusuhan,kecuali terhadap orang-orang yang zalim.(al-baqoroh 193)

Dalam ayat diatas ALLAH meyebut dengan kata-kata qital untuk memerangi orang-orang kafir sampai tidak ada lagi fitnah.dan dalam tafsir ibnu katsir disebutkan makna fitnah adalah kekafiran dan kesyirikan.sedang kekafiran dan kesyirikan akan senantiasa ada sampai hari kiamat.itu maknanya qital akan senantiasa ada sampai hari qiyamat.

Kemudian dalam hadits tentang thoifah manshuroh hampir semuanya menggunakan kata-kata qital diantaranya :

hadist jabir bin abdullah yang artinya :

“akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang diatas kebenaran sampai hari kiamat.maka pada saat nabi Isa bin maryam turun ke (tengah mereka).pemimpin kelompok tersebut berkata kepada Isa’kemarilah,anadalah yang berhak mengimami kami sholat’.namun nabi isa menjawab, “tidak.sebagian kalian adalah pemimpin sebagian yang lain,sebagai bentuk pemuliaan ALLAH atas umat ini. “ (HR.Muslim)

Kemudian dalam hadist salamah bin nufail al kindiy: yang artinya:

Dari salamh bin nufail al kindi berkata :saya tengah duduk disisi rosululloh,tiba-tiba seorang sahabat berkata, “ wahai nrosululloh, masyarakat telah meninggalkan kuda perang dan meletakkan senjata. Mereka mengatakan ‘tidak ada jihad lagi,perang telah usai”.mendengar pengaduan tersebut,rosululloh menghadapkan wajahnya dan bersabda,”mereka telah berkata dusta!!!sekarang ini, sekarang ini, justru saat berperang telah tiba, akan senantiasa ada dari umatku ini, satu umat (kelompok) yang berperang diatas kebenaran ALLAH menyesatkan hati-hati sebagian manusia (orang-orang kafir)dan memberi rizki satu umat (kaum muslimin yang berjihad)dari mereka yang tersesat tersebut (yaitu harta ghonimah), demikianlah yang akan terus terjadi sampai tegaknya kiamat, dan sampai datangnya urusan (ketetapan)ALLAH.dan kebaikan akan senantiasa tertambat pada ubun-ubun kuda perang sampai hari kiamat… (HR.An nasai dan thobroni Dinyatakan shohih oleh Al bani)

Dalam Hadis ini secara tegas rosululloh menggunakan istilah qital untuk peperangan yang senantiasa ada sampai hari qiyamat, ini sebagian kecil nash yang membantah definisi penulis.

Dan terakhir yang menjadi fokus catatan kami adalah kalimat penulis masih dalam halaman 7:

Teori dasarnya; JIHAD PASTI MENGHASILKAN KEMENANGAN jika DILAKUKAN DENGAN BENAR

Maka kami katakana, keberhasilan atau kemenangan sungguh sangat naif manakala itu di ukur dengan materi, maka mari kita sama-sama renungkan apa yang menjadi parameter dan tolak ukur kemenangan?

Syekh  rohimahulloh Yusuf Al Uyairi dalam kitabnya “Tsawabit ‘alaa darbil jihad” menjelaskan dengan gamblang mengenai makna kemenangan, diantaranya:

1.   Makna terbesar dari sebuah kemenangan –yang pasti telah dicapai oleh siapa saja yang mau berjihad, baik sendirian atau bersama sama umat— adalah ketika seorang mujahid berhasil mengalahkan nafsunya, mengalahkan syetan yang menggodanya serta mengalahkan ‘delapan perkara yang disukai semua manusia’ dan kesukaan-kesukaan yang menjadi cabangnya, menga-lahkan urusan-urusan duniawi yang menarik dirinya, di mana dalam hal ini banyak sekali kaum muslimin yang gagal, bahkan bisa dibilang hampir seluruh umat gagal untuk mengalahkan perkara-perkara ini. Alloh menyebutkan kedelapan perkara ini dalam firman-Nya:

Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Alloh dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS 9:24)

2.  Jika seorang hamba keluar untuk berjihad, ia telah mencapai kemena-ngan dan termasuk orang-orang yang disebut Alloh dalam firman-Nya:

“Dan orang-orang yang berjihad di (jalan) Kami, pasti akan Kami tun-jukan kepadanya jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh bersama or-ang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS 29:69)

3.  Ketika seorang mujahid teguh di atas jalan dan prinsip jihad, apapun yang menimpa dirinya, baik kepaya-han dan kegoncangan dan komentar-komentar yang melemahkannya, pada dasarnya ini sudah merupakan satu kemenangan. Alloh Ta‘ala berfirman:

“Alloh meneguhkan orang-orang beri-man dengan perkataan yang kokoh ketika di dunia maupun di akhirat. Dan Alloh menyesatkan orang-orang dza-lim dan Alloh mengerjakan apa yang Dia kehendaki.” (QS 14:27)

Bukankah orang yang tetap teguh di atas jalan jihad dan terus melak-sanakannya serta menjadi orang-orang yang diteguhkan seperti dalam ayat ini sudah cukup untuk disebut sebagai orang yang mendapatkan ke-menangan?

4.  Bentuk kemenangan lain, jihad menjadi penyebab fakirnya orang kafir dan sebab matinya mereka di atas kekufurannya serta terhalanginya me-reka dari memperoleh hidayah. Ini termasuk kemenangan terbesar.

Peperangan dan permusuhan me-reka terhadap agama Islam dan muja-hidin menjadi sebab kesesatan dan terjerumusnya mereka dalam kekafi-ran sampai mati. Inilah permintaan Nabi Musa dan Harun ‘Alaihimas Salam kepada Alloh untuk Firaun dan kaumnya, Alloh berfirman tentang Nabi Musa:

“Dan Musa berkata: Duhai robb kami, sesungguhnya Engkau telah membe-rikan kepada Firaun dan pengikutnya perhiasan dan harta benda di dunia, ya robb kami mereka mengguna-kannya untuk menyesatkan manusia dari jalan-Mu, ya robb kami hancur-kanlah harta mereka dan keraskanlah hati mereka sehingga mereka tidak akan beriman sampai melihat adzab yang pedih.” (QS 10:88)

Permintaan Nabi Musa ‘Alaihis Salam terhadap perkara-perkara ini menunjukkan jika perkara-perkara yang beliau minta tersebut terwujud berarti kemenangan hakiki berada di tangan. Kekalahan apakah yang lebih besar daripada ketika Alloh keraskan hati orang kafir sampai mereka jumpai adzab yang pedih? Ketika kaum mukminin nanti berbahagia dengan posisi yang diceritakan Alloh dalam Al-Quran ketika mereka mengatakan kepada para pemimpin orang-orang kafir:

“Rasakanlah (siksa neraka) sesungguhnya kamu itu maha perkasa lagi maha mulia.” (QS 44:49)

5.  Di antara bentuk kemenangan adalah ketika Alloh mengambil seba-gian hamba-Nya sebagai syuhada. Maka setiap hamba yang berjuang dan terluka karena Alloh Ta‘ala semua itu sebenarnya agar ia bisa memperoleh tiket masuk surga. Oleh karena itu, Alloh Ta‘ala berfirman:

“Dan hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia dan agar Alloh mengetahui orang-orang yang benar-benar beriman serta mengambil seba-gian dari kalian sebagai syuhada. Dan Alloh tidak menyukai orang-orang yang dzalim.” (QS 3:140)

Kesyahidan merupakan pilihan yang Alloh tentukan bagi hamba-Nya. Bermakna, siapa yang Alloh pilih untuk bisa mencapai derajat ini berarti telah meraih kesuksesan dan kemenangan. Kesyahidan adalah puncak daripada cita-cita karena kesyahidan  merupakan pilihan dari Alloh,  sampai-sampai Rosulullohpun mengangankan kesyahidan hingga tiga kali di dalam sabdanya:

(وَلَوَدِدْتُ أَنْ أُقْتَلَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ)

“Sungguh, aku benar-benar berandai-andai jika untuk terbunuh di jalan Alloh, kemudian dihidupkan lagi, ke-mudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi.”

Alloh Ta‘ala berfirman untuk menegaskan makna kemenangan ini:

“Dan janganlah kalian sangka bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka hidup di sisi robbnya mendapatkan rezeki.” (QS 3:169)

Dan berfirman:

“Dan janganlah kalian katakan bahwa orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka hidup tetapi kalian tidak menyadari.” (QS 2:154)

6.  Bentuk kemenangan lain adalah kemenangan di medan tempur. Inilah makna kemenangan yang difahami oleh hampir seluruh umat manusia. Kebanyakan orang hanya membatasi kemenangan pada makna ini saja. Ini tentu pemahaman yang timpang. Kemenangan di medan tempur tak lain hanya salah satu dari sekian bentuk kemenangan.

Rosululloh SAW sempat bergem-bira dengan kemenangan medan ini dan Alloh tunjukkan kemenangan ini sebelum beliau wafat, kemudian berfirman kepada beliau untuk mengingatkan nikmat tersebut:

“Apabila datang pertolongan dan ke-menangan dari Alloh, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Alloh dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji robbmu dan meminta ampun-lah kepada-Nya, sesungguhnya Alloh Maha menerima taubat.” (QS 110:1-3)

Demikianlah beberapa bentuk kemenangan.

Sebenarnya masih banyak bentuk kemenangan lain dan tidak cukup untuk dibahas seluruhnya di sini. Kami cukupkan dengan menyebutkan beberapa contoh di atas yang kesemuanya masuk dalam lingkup janji Alloh SWT yang berfirman:

“Sungguh, Kami pasti menolong (me-menangkan) rosul-rosul Kami dan orang-orang beriman ketika di dunia dan ketika saksi-saksi ditegakkan.” (QS 40:51)

Serta firman Alloh:

“Dan menjadi kewajiban Kami meme-nangkan orang-orang beriman.” (QS 30:47)

Bagi orang yang sempit pemaha-mannya tentang kemenangan, ia akan mengatakan: Bagaimana Alloh menya-takan wajib (pasti) memenangkan para rosul dan orang-orang beriman sementara di antara para rosul itu ada yang terbunuh, ada yang tidak men-dapatkan kekuasaan, bahkan ada yang tidak mendapat seorang pengi-kutpun yang masuk Islam bersama-nya?

Semoga catatan ini bermanfaat dan menambah wacana kita, khususnya dalam dakwah dan jihad.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.